| Senin, Agustus 13, 2007 |
| MIMPI – MIMPI |
“Oh, God! Aku benci jadi mellow!!!” De mengumpat. Dilemparkannya novel percintaan yang menyedihkan itu ke kasur.
“Aaarrrrggghhh! Kenapa aku jadi ingat dia. Oh! Dasar novel sialan!” De mengumpat sekali lagi.
“Mer benar. Seharusnya, kemarin aku membeli majalah Donald Bebek saja. Bete.”
Dihempaskan tubuhnya yang tiba-tiba terasa layu, di sofa. Sekuat tenaga De mencoba menghilangkan bayangan Arya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bayangan itu makin lekat.
“Ah, aku jadi ingin memandangi langit dan bintang.”
---
Ra mengambil sebatang rokok mild dari saku kemejanya. Menyulutnya lalu menghisapnya. Dalam-dalam. Wajahnya berubah serius.
“Ehem….ehem…” Beberapa kali dia berdehem. Seperti sengaja menghilangkan kering dari tenggorokannya.
“De, dia sudah meminta seseorang.” Katanya pelan. De tak terlalu menghiraukannya, asyik dengan penggaris, pensil, denah dan perspektif gedung kantor baru.
“Minta apa?” jawabnya sambil lalu. Sambil mengarsir.
“Ya…minta.”
“Minta? Maksudnya?” De masih belum mengalihkan pandangan dari kertas gambar.
Asap putih ke luar dari mulut dan hidung Ra. De merasakan mata elang Ra memandangnya lekat-lekat. Hening sejenak. De masih belum bergeming.
“De. Kamu tuh ngerti nggak sih apa yang kumaksud dengan kata ‘meminta’?” Suara Ra terdengar gemas dan tegas. De kaget. Dan akhirnya, mengangkat wajahnya. De memutar posisi duduk. Kini, memandang Ra.
“Kamu udah gede kan? Masa nggak paham sih?” Lanjut Ra sambil mematikan rokoknya. Geregatan.
“Minta…? Minta…? Maksudnya…dia …sudah…” De berusaha menebak arah pembicaraannya.
“Ya! De, dia sudah melamar seseorang.”
Apa!!! Arya melamar seseorang? God, no! Tell me it’s not real. Damn! Wajah Re memerah, marah. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar.
“Melamar? Orang lain? How come? Oh, come on. We both know him!” Bibirnya gemetar.
“Dua hari yang lalu.” Klik. Ra menyalakan pemantik apinya. Batang kedua. Asap keluar lagi dari mulut dan hidungnya. Kepala De semakin pusing disergap aroma rokok.
“Tidak ada yang tahu, De. Ini di luar dugaan. Semuanya dilakukan diam-diam.”
De mengernyit. Oh, tidak. Tidak mungkin. Aku masih belum bisa menerimanya. Ini benar-benar luar biasa. Semua orang di kantor ini juga tahu bagaimana dekatnya hubunganku dengan Arya. Tapi, kenapa orang lain yang kemudian dilamarnya? It’s crazy! It must be something wrong!
De beranjak dari meja gambar. Tidak sanggup berpikir lagi. Ra masih bertahan dengan tatapan matanya yang lekat-lekat serasa menusuk jantung dan seolah-olah menerka apa isi kepalanya saat itu.
“Kok bisa sih? Gimana ceritanya?” Bola mata Ra mengikuti gerakan De yang mondar-mandir di depannya, gelisah. Bingung, marah dan kecewa. Banget.
“Aku juga nggak tahu, De.”
“Kamu tahu siapa orangnya?” Tanya De. Lalu terdiam.
Mimpi-mimpi itu berkelabatan lagi di kepala De. Perempuan itu dan Arya. Sudah lama sekali. Tidak begitu jelas. Tapi, De masih ingat betul detail utamanya.
“Hmmm. Kurasa kamu tahu dia. Mungkin juga kenal.” Tahu? Kenal? Sialan. ‘Ra, tentu saja aku tahu.’ Teriak De marah, dalam hati. ‘Kalo memang dia perempuan yang sama dengan yang ku lihat di mimpiku. Wajahnya samar. Tapi aku ingat ciri-cirinya. Rambutnya, postur tubuhnya, matanya, pipinya, dan warna rambutnya. Dan aku yakin hanya seorang yang memenuhi ciri-ciri itu.’
“Aku pernah bertemu dengannya?” Pancingku.
“Kurasa begitu. Kamu datang ke pesta koktail dua bulan lalu?” Arah pembicaraan Ra makin jelas. Membuat De makin yakin. Otaknya berputar cepat, menyusun puzzles momen pesta koktail dan mimpiku. Ya, benar. Pasti dia. Perempuan itu ada di sana. Pasti dia.
Berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaan “Siapa yang akan dinikahinya?” membuat De tidak bahagia. Dia luruh. Perasaannya hancur. Sakit. Tersayat. Dan sangat kecewa. Baginya ini benar-benar seperti ‘accidentally in love’. Ough!
“Ya, aku datang.” De mondar-mandir lagi. Gelisah.
“Ra….”
“Ya.”
“Aku tahu siapa perempuan itu.” Suaranya tercekat. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ra mengangkat alis kirinya. Disulutnya lagi rokok mild. Batang ketiga.
“I know.” Jawabnya tenang.
“Aku pernah memimpikannya. Sudah lama sekali. Sudah hampir kulupakan.” Mata indah Ra menatap mata De lekat-lekat. Mengukur tingkat kebenaran ucapannya.
“Sebutkan ciri-cirinya.” Dia ngetes. De berteriak dalam hati. ‘Ra, mimpiku jadi nyata. Feeling-ku tepat.’ Hati De mulai menangis. Tubuhnya bergetar.
“Mata indah, bulat. Rambutnya hitam, ikal, sebahu lebih. Putih.”
“Tinggi badannya.” Tanya Ra cepat.
“Tidak terlalu tinggi.” De menjawab lagi di dalam hatinya, ‘Di mimpiku, aku melihat dia tidak sampai sebahu Arya. Waktu itu Arya menggandeng tangannya. Dan…perempuan itu tidak menolaknya!!!’
“Aku lebih tinggi darinya.” Lanjut De cepat.
“Bingo.”
“Yeah.”
Hening. De beradu pandang dengan Ra. Lama. Ra seakan tahu apa yang ada di pikirannya. Pandangan Ra melunak. Tanpa menunggu habis, dimatikannya rokok. Dia mengangguk memberi jawaban ‘ya’ dari nama yang disebutkan De dalam hatinya.
“Ni…ta.” De terbata. Kali ini dia benar-benar luruh. De merasa dipecundangi. Rasanya begitu ingin menyalurkan nafsu destruktifnya dengan membanting gelas, piring, atau apalah. De jadi sangat gelisah. Amat.
Lantas, berbagai ‘kenapa’ muncul di benaknya. Dia marah dan cemburu. Selama ini dia yakin kalau Arya tak akan melirik tipe wanita seperti Nita. De merasa yakin dengan perasaannya, bahkan De merasa dialah pilihan Arya. ‘I’m the woman he will share his life with’ katanya suatu ketika kepada Ra. Tapi, kenyataan memang tidak selalu sama dengan keinginan. Dan itu menyakitkan!
Ra berdiri, mendudukkan De di sampingnya. De menangis.
“Nangis aja kalau mau nangis.” Bisiknya lembut. De makin sesak.
“Biar lebih plong.” Pertahanannya buyar. De tergugu.
---
Setelah hampir dua tahun, kenangan itu muncul lagi. De sudah tidak menangis lagi. Tapi ‘clekit’ kecil masih ada di hatinya. ‘Ah, Arya. Aku bahkan belum sempat mengajakmu duduk dan memandangi bintang.’ Batinnya sambil menutup tirai jendela. Malam ini bintang tak terlihat.
De mendesah, “Aku kesepian.”
Kamar Dita Lepas Subuh 11 Agustus 2007 |
posted by vina @ 09:58  |
|
|
|
| About Me |
|
|
| Owner's Blogs |
|
|
| Quotation |
"Melupakan sama saja dengan menghilangkan. Dan kehilangan adalah hantu bagi jiwa dan waktu."
("Missing" by Ruwi Meita; GagasMedia: 27) |
| Shoutbox |
Free shoutbox @ ShoutMix
|
Readers |
|
|
| Sponsored By |
|
|