21.30. Aparteman Vika. Dekat jendela.
Klik. Lidah api orange kemerahan meliuk-liuk terkena hembusan nafas dari hidung Vika. Didekatkannya pemantik ke ujung rokok mild-nya, batang kedua. Di depannya Gaga menatapnya lurus, lekat-lekat. Berusaha menebak-nebak apa isi otak cewek cuek yang sebenarnya cantik, tapi nggak ngrasa banget kalo dirinya cantik.
“Aku pengen pergi…jauh. Jauh.” Sssshhh….huuuhhhh. Asap putih meliuk-liuk genit ke luar dari mulut dan hidung Vika. Vika memang bukan Sharon Stone di film Basic Instinct, yang…sumpah!!! Gaya ngrokoknya seksi banget, tapi bagi Gaga Vika lebih oke daripada Sharon meski tanpa gaya genit dan gaun menggoda.
Gaga masih menatap Vika, tak bergeming. Sengaja menunggu kalimat selanjutnya yang akan muncul dari mulut Vika, yang bibirnya tetap saja berwarna pink meski tanpa lipstick. Tapi setelah sekian lama berselang, gadis itu tetap saja tak bersuara selain desahan menikmati rokoknya.
“Pergi? Jauh? Ada apa, Vik?” Suara Gaga terdengar sedikit gusar. Setengah mampus dia mendekati gadis cuek ini dan sekarang setelah berhasil mendekatinya, si gadis malah pengen kabur. Busyet!!! Nggak rela banget.
Vika meliriknya sekilas. Lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Di luar sana sudah gelap dan hanya satu bintang yang tampak mengkilat, mengerling-kerling genit di kejauhan. Keheningan mendominasi lagi. Gaga semakin gusar. Dia sangat tidak ingin gadis pujaannya ini kabur begitu aja.
“Vik.” Gaga menegur dengan nada setengah membentak. Vika tersentak, kaget. Refleks dia memutar badan. Menekan puntung rokoknya dia asbak hitam putih dan meniupkan asap terakhir tepat di depan wajah Gaga. Vika tersenyum tipis, sedikit sinis. Gaga mengumpat dalam hati. ‘Sialan! Untung aja aku perokok berat, jadi nggak anti dengan asap rokok di mukaku. Rese.’
“Kenapa?” Vika mengangkat alis kanannya. Membalas tatapan Gaga lekat-lekat. Gaga hanya diam. “Aku ingin pergi dari sini. Nggak tahu ke mana dan berapa lama. Pengen pergi aja.”
“Tapi kenapa?” Gaga nggak ngeri musti ngomong apa lagi. Perdebatan dengan Vika, seperti yang sudah-sudah, hanya akan menghasilkan kehampaan, nihil. Cewek cantik yang satu ini nggak mempan dipaksa-paksa.
“Aku hanya ingin berdamai dengan diriku sendiri, Ga.” ‘Sial! Pelit banget sih nih cewek kalo ngomong. Yang jelas dikit napa!’ Gaga ngomong sendiri dalam hati. Gondok. Seakan bisa menebak kata hati Gaga, Vika melanjutkan, “Aku lagi bingung…” Gaga mengangkat alisnya. Menunggu lanjutan dari kalimat Vika yang menggantung. “Dengan perasaanku sendiri”
“Apa?” Spontan Gaga berkata setengah teriak. Kaget. Dan segera berdehem-dehem ria setelah menyadari volume suaranya yang nggak standard. Ada desiran-desiran berloncatan di hatinya.
“Vik…ada apa sih? Plis jangan boong ke aku. Jujur aku nggak tahan kamu diemin kayak gini.” Akhirnya Gaga nyerocos juga. Nggak tahan. Dia sudah memutuskan untuk mencari jawab atas semua keanehan Vika beberapa hari terakhir.
“Hmm…entahlah. Aku sendiri juga nggak ngerti.” Vika mengendurkan pandangannya dan tersenyum simpul. Dalam hati Gaga berteriak, ‘Alamak, cantik banget nih makhluk!’
“Trus, kenapa pake mo pergi segala? Apa dengan begitu masalahmu akan selesai?”
“Nggak tahu…aku nggak ngerti…aku bingung.” Vika bangkit dari duduknya, menuju jendela. Memandangi bintang yang memang cuman satu-satunya yang terlihat di langit saat itu.
“Vik…” Suara Gaga tercekat di tenggorokan.
“Hmm.” Jawab Vika tanpa memalingkan muka. Asyik dengan pikirannya sendiri.
“Vik…a-a….” Gaga berusaha mengatakan persaannya. Dia nggak ingin ditinggal sendirian. Dia pengen banget ngomong ‘Vika aku cinta ama kamu. Plis jangan pergi.’ Tapi yang ada hanya bengong. Kata-katanya menggantung begitu saja.
“Mungkin…aku sedang jatuh cinta ya, Ga.” Gubrakkk!!! Gaga langsung lemas. Kedua lututnya seakan-akan nggak kuat menahan berat badannya. Bagai disamber bledek di siang hari bolong. Benar-benar di luar dugaan. Vika yang cuek bisa jatuh cinta. Sama siapa?
“J-j-jatuh ci-cinta?” Sahut Gaga terbata-bata. Lebih tepatnya mendesis. Seakan-akan berbisik di telinga bayi yang sedang nyenyak tidur. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin tiba-tiba saja muncul di kedua telapak tangan dan kakinya. Dia langsung terduduk lagi, batal merengkuh Vika.
“Mungkin.” Vika mengedikkan bahunya dan memutar tubuhnya. Lalu duduk menghadap Gaga. Sambil bertopang dagu, dia melanjutkan, “Ga, pernah jatuh cinta?” Spontan mata Gaga berkedip-kedip nggak percaya. Dipandanginya wajah Vika yang tanpa polesan. Ekspresinya yang adem ayem membuat Gaga panas dingin. Dalam hati dia marah-marah, ‘Apa?!!! Cinta? Ya jelaslah pernah. Kamu nih gimana sih, Non. Nggak pernah nyadar ya kalo aku cinta mati sama kamu. Rese. Jadi orang jangan cuek-cuek dong. Nggak punya sense of love banget sih!!! Sialan. Apa perlu aku teriak-teriak ‘I love u, Vika’ di sepanjang blok ini untuk menunjukkan cintaku ke kamu. Gila aja kalo iya. Sadar dong, neng. Sadar. Aku cinta mati ma kamu.’
“Ga, kok bengong sih. Gagaaaa….” Tangan kanan Vika menepuk-nepuk punggung tangan kanan Gaga. Sedangkan tangan kirinya naik turun di depan mata Gaga.
“Eh…i-i-iya.” Gaga gelagapan. Kaget. “A-apa Vik? Tadi kamu ngomong apa?” Vika cemberut. Males banget ngulang kata-kata.
“Ruben.”
“Hah? Ruben? Ada apa dengan Ruben?” Gaga benar-benar nggak ngeh. Kenapa tiba-tiba Vika bawa-bawa Ruben. Perasaannya mendadak nggak enak. Mengingat betapa kakak cowoknya itu cakep dan jadi idola cewek-cewek. ‘Waduh, gawat. Jangan-jangan Vika suka sama Ruben.’, batinnya.
“Iya…Ruben…Ruben yang buat aku kayak gini.” Gaga melongo nggak ngerti. Serasa ada yang menohok dadanya. Sakit.
“Dia nembak aku. Sabtu lalu. Aku bingung, Ga. Bingung. Makanya aku pengen pergi dulu sementara dari sini. Aku pengen mikir dengan tenang. Trima atau nggak.” Mulut Gaga megap-megap mirip ikan koki. Pengen ngomong tapi nggak ada kata-kata yang ke luar. Tiba-tiba tenggorokannya jadi terasa kering kerontang banget. Matanya melotot. Tangannya meremas-remas ujung kaosnya. Marah.
“Ka-kamu…Ru-Ruben. Jadi selama ini…Ruben naksir kamu?” Vika mengangguk pelan. ekspresinya nggak bisa ditebak. Gaga dongkol banget. Gondok setengah mati sama Ruben. Pengen sebenarnya langsung meluk Vika dan bilang kalo sebenarnya dia cinta mati sama Vika sejak pertemuan di Cito setahun yang lalu. Tapi yang ada dia hanya menunduk lesu dan memaki-maki sendiri dalam hati, ‘Sialan kamu, Ben. Kapan sih kamu bakal ngalah ama aku. Nggak bisa apa lihat cewek bening dikit di dekat aku. Kapan aku punya pacarnya kalo kayak gini terus. Rese! Aku bosan ngejomblo. Tahu nggak si kamu!!!!’
“Ga…sebenarnya ak….” Tanpa mendengarkan kelanjutan omongan Vika, Gaga bangkit dari duduknya. Lupa dengan niat awal untuk mencari jawab dan mengungkapkan persaannya, tanpa ba-bi-bu, dengan gontai, Gaga ke luar dari kamar Vika. Meninggalkan Vika yang masih terbengong-bengong dengan perubahan sikap sohibnya itu. Nggak ngerti. Vika melihat kepergian Gaga dengan lesu dan cemberut. Kesal dalam hati, ‘Gagaaaaa….dasar aneh! Kok pergi sih. Aku kan belum selesai ngomong. Kok malah ditinggal pergi. Padahal aku kan mau bilang kalo selama ini aku suka sama kamu. Dasar sarden! Jeelllekkk!’
Kamarku Lepas sms2an (Buat nama yang paling banyak disebut…thanx dah boleh minjam namanya...gratis nggak pake bayar upeti. Crita ini imajinasi belaka. Kalo ada yang mirip-mirip dikit…ya…gpp kan? J) |